Media

Sentuhan Teknologi Tanpa Meminggirkan Tradisi

LETAK Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Banyumas, Jawa Tengah, cukup terpencil, dengan jarak 55 kilometer (km) dari pusat Kota Purwokerto, Banyumas. Sinyal telepon seluler yang tertangkap hanya bisa satu operator saja. Namun, keterbatasan akses internet dan jarak terpencil itu tak menyurutkan niat warga untuk memberikan informasi kepada masyrakat luas melakui website desanya.

Bahkan, desa yang memiliki Museum Naladipa yang diresmikan Juni 2013 silam itu tak lepas dari sentuhan teknologi. “Museum ini sesungguhnya untuk menjaga tradisi, agar anak cucu mengetahui apa yang dilakukan nenek moyangnya dulu. Makanya, museum di sini menampilkan berbagai macam peralatan masak, bertani, penerangan dan lainnya. Kami ingin, generasi sekarang dan mendatang tidak melupakan tradisi desanya. Tetapi, kami juga memberikan sentuhan teknologi. Misalnya, di setiap koleksi museum, kami menggunakan barcode. Dengan adanya barcode tersebut, maka bagi yang mempunyai smartphone, bisa langsung melakukan scanning, dan muncullah datanya. Kami memang sengaja menuliskan data sederhana terhadap koleksi-koleksi yang ada di museum,” jelas Kepala Desa Dermaji Bayu Setyo Nugroho.

Sentuhan Bayu, lulusan Magister Adiminstrasi Publik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tersebut memang agak berbeda jika dibandingkan dengan desa-desa umumnya. “Kami ingin menggabungkan teknologi dengan tradisi. Jangan sampai teknologi yang ada justru menghilangkan tradisi yang telah terbangun selama ratusan tahun. Justru sebaliknya, bagaimana dengan teknologi akan mampu melestarikan tradisi,” jelasnya.

Sampai sekarang, pihak desa terus melakukan pendataan berbagai macam tradisi. Karena di dalam tradisi yang ada sesungguhnya menyimpan kearifan lokal. Pengetahuan semacam itu tentu dibutuhkan generasi sekarang maupun masa depan. “Seluruh pendataan bakal dituliskan agar tidak ditelan zaman dan anak cucu mendatang masih dapat memiliki pengetahuan akan masa lalu,” ujar Bayu.

Dikatakan, meski berada di daerah yang cukup terpencil dengan sinyal terbatas, namun hal itu tak kemudian membuatnya menyerah untuk terus mendidik anak-anak muda desa setempat agar dapat mengakses internet.

“Sebab, mau tidak mau, orang desa harus melek teknologi. Makanya, kami terus melakukan pelatihan dan berdiskusi bersama anak-anak muda di desa yang tergabung dalam Karang Taruna serta guru-guru muda. Mereka juga mengikuti pelatihan menulis, karena nantinya merekalah yang akan menjadi penulis di website desa,” katanya.

Situs desa, kata Bayu, sangat berperan penting keberadaannya terutama untuk transparansi dan akuntabilitas dalam program pembangunan. “Dengan adanya situs desa, maka rencana pembangunan, proses pembangunan hingga pascapembangunan terus diberitakan. Bahkan, masalah biaya pembangunan juga dapat transparan. Sehingga masyarakat akan lebih meningkat kepercayaannya terhadap pemerintah desa. Di sisi lain, warga juga bisa ikut serta dalam melakukan pengawasan dan mengawal pembangunan di desa,” ujarnya.

Ia menceritakan, bagaimana sebetulnya website desa cukup efektif untuk menyampaikan informasi kepada warga Dermaji yang kini sukses di kota-kota besar. “Kebetulan beberapa waktu lalu, kami habis membangun Masjid Agung Dermaji yang memakan biaya Rp600 juta. Banyak yang menyumbang, setelah rencana tersebut diunggah di website desa. Inilah yang menjadi dampak positif dengan adanya situs desa. Namun yang paling penting sebetulnya adalah, bagaimana situs desa tetap rutin mampu menampilkan berita dan menyiapkan sumberdaya manusia untuk mengelolanya,” tambahnya.

Dengan teknologi informasi yang telah digunakan, lanjut Bayu, maka pendataan penduduk juga lebih tertib. “Data penduduk yang baik, juga kami pakai untuk menjadi basis verifikasi bagi warga desa jika akan menjadi buruh migran di luar negeri. Jangan sampai nantinya ada warga yang masih di bawah umur tetap dapat kerja di negera manca. Inilah yang bisa kami lakukan, untuk mengurangi masalah. Kami juga bekerja sama dengan pegiat LSM yang konsen di bidang pelayanan buruh migran, sehingga tahu rekam jejak penyalur tenaga kerja. Tujuannya tidak lain supaya calon buruh migran aman dan bekerja baik di luar negeri sesuai bidangnya,” ungkap Bayu. (Q-1)

http://mediaindonesia.com/news/read/17649/sentuhan-teknologi-tanpa-meminggirkan-tradisi/2015-05-11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.