Saya

Saya dilahirkan pada hari Selasa Pahing, 17 Juni 1975 di Desa Dermaji.  Desa Dermaji adalah desa perbukitan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Lumbir, yang terletak di ujung paling barat wilayah Kabupaten Banyumas dan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap. Ibu saya adalah seorang perempuan yang sabar, tegar, bersahaja dan sangat saya banggakan yang sampai sekarang masih bekerja sebagai Guru SD di SD Negeri 1 Dermaji. Sedangkan bapak saya adalah pensiunan Sekretaris Desa (Carik).  Karena posisi bapak sebagai carik, dari kecil saya sudah terbiasa melihat bagaimana pamong desa bekerja melayani masyarakat.

Saya memang berasal dari keluarga yang sebagian besar memiliki latar belakang sebagai pamong desa.  Kakek saya baik dari bapak ataupun ibu pernah menjabat sebagai Kepala Desa.  Dari delapan Kepala Desa – mulai dari Kepala Desa yang pertama – sampai Kepala Desa sebelum saya, lima orang diantaranya memiliki garis keturunan langsung dengan saya.

Masa-masa kecil saya adalah masa-masa yang sangat membahagiakan dibawah asuhan kedua orang tua saya yang begitu mencintai dan menyayangi saya.  Pada tahun 1981 saya masuk SD Negeri Dermaji 1 dan lulus tahun 1987.

Selepas lulus SD, untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik saya melanjutkan SMP di Purwokerto.  Pada tahun 1987, saya masuk ke SMP Negeri 1 Purwokerto.  Jarak dari SMP Negeri 1 Purwokerto dari rumah saya cukup jauh. Sekitar 60 km. Sehingga dengan kondisi semacam itu saya harus tinggal di Purwokerto sebagai anak kost.

Masa-masa di SMP pun dapat saya lalui dengan baik selama tiga tahun, dan pada tahun 1990 saya masuk ke SMA Negeri 1 Purwokerto.  Saya sangat bersyukur, karena bisa diterima di SMA Negeri 1 Purwokerto, yang pada waktu itu menjadi SMA terbaik dan terfavorit di wilayah eks-Karesidenan Banyumas.

Pada tahun 1993 saya diterima kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto.  Di awal-awal kuliah, sejak tahun 1994-an, saya mulai menemukan dan membaca buku-buku bertema keagamaan yang  memberikan tafsiran keagamaan yang bersifat inklusif.  Saya mulai membaca tulisan-tulisan Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, dan lain-lain.  Tulisan-tulisan mereka sangat memberikan pencerahan dan mampu membangun “kesadaran baru” bagi saya dalam cara memandang terhadap agama dan keberagamaan.  Kesadaran baru tersebut terwujud dalam pemikiran saya yang lebih terbuka dalam memaknai ajaran agama dan sikap yang mau menerima pandangan keagaman dari umat beragama lain.

Pada tahun 1995, saya seperti mendapat energi baru setelah saya bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Soedirman.  Saya mulai berkenalan dengan filsafat dan mulai senang membaca buku-buku bertema filsafat.  Saya membaca buku Kritik Ideologi nya Fransisco Budi Hardiman, Ideologi dan Utopia nya Karl Manheim, Filsafat sebagai Ilmu Kritis nya Franz Magnis-Suseno dan lain-lain.  Saya juga membaca majalah Basis, bahkan mengkoleksi beberapa di antaranya di dalam rak buku saya.  Pada tahun-tahun pertengahan kuliah, saya berkesempatan mendapatkan beasiswa Asian Development Bank (ADB).  Dana beasiswa tersebut selain saya manfaatkan untuk membayar biaya kuliah, juga saya manfaatkan untuk membeli buku-buku yang menjadi minat saya.

Di kampus, saya juga sering mengikuti seminar, saresehan dan semacamnya, baik seminar bertema politik yang menghadirkan pembicara dari dalam maupun luar negeri, seperti Dr. Riswandha Imawan (Alm.),  Dr. Mohtar Mas’oed (Alm.), Prof. Lance Castle dan lain-lain, maupun seminar dan saresehan yang bertema budaya yang seringkali menghadir-kan budayawan Banyumas, Ahmad Tohari.  Seminar bertema keagamaan yang mengadirkan pembicara tokoh-tokoh agama seperti Said Aqil Siradj, Masdar Farid Mas’udi dan lain-lain juga sering saya ikuti.  Saya juga sempat mengikuti pendidikan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LPM Solidaritas Fisip Unsoed.

Setelah lulus kuliah pada tahun 1999, sebetulnya saya sangat berminat untuk langsung melanjutkan kuliah ke jenjang S2.  Tetapi karena adanya keterbatasan biaya, saya terpaksa harus mengurungkan keinginan tersebut. Namun saya terus berusaha dengan mengirimkan aplikasi permohonan beasiswa untuk S2 melalui Program Australian Development Scholarship (ADS) pada tahun 2000.  Tetapi permohonan saya belum bisa disetujui.  Pada tahun 2003 saya mengikuti Program Akta Mengajar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Di penghujung akhir tahun 2004 menjadi babak baru bagi saya.  Tepatnya tanggal 30 Desember 2004, saya terpilih menjadi Kepala Desa melalui pemilihan yang berlangsung secara demokratis.  Saya dilantik sebagai Kepala Desa oleh Bupati Banyumas, pada tanggal 3 Februari 2005. Pada waktu itu saya belum menikah dan menjadi Kepala Desa termuda di Kabupaten Banyumas.  Saya menjabat Kepala Desa untuk periode 2005 – 2011.  Saya adalah Kepala Desa yang ke sembilan dari seluruh Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Dermaji.  Pada awal tahun 2011 masa jabatan saya selesai, sehingga pada akhir tahun 2010 harus dilaksanakan pemilihan Kepala Desa lagi.  Tepat pada hari Senin Kliwon, 13 Desember 2010 dilaksanakanlah pesta demokrasi untuk memilih Kepala Desa Dermaji masa jabatan 2011 – 2017. Dan alhamdulillah saya kembali terpilih untuk periode kedua dengan perolehan suara 83% dari total jumlah pemilih yang hadir, yaitu sebanyak 3.012 orang.

Menjadi Kepala Desa memberikan ruang yang lebih luas kepada saya untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang saya pelajari semasa kuliah, terutama ilmu administrasi dan kebijakan publik.  Saya menjadi lebih tahu apa itu kebijakan publik, bagaimana merumuskannya, bagaimana mengimplementasikannya dan mengevaluasinya.

Sebagai Kepala Desa, saya mencita-citakan Desa Dermaji menjadi desa yang maju dan sejahtera penuh kedamaian. Kemajuan yang saya impikan adalah kemajuan yang berkarakter budaya bangsa.  Karena saya meyakini banyak sekali nilai-nilai (budaya) luhur yang diwariskan oleh nenek moyang kita, yang sepatutnya kita lestarikan dan pertahankan.  Nilai-nilai tersebut bahkan bersifat fundamental yang mampu memberikan sebuah cara pandang yang utuh menyeluruh untuk membangun individu, masyarakat dan bangsa yang baik serta berkualitas.