CatatanUncategorized

Saatnya Kewenangan Desa Dipertegas

Ini adalah catatan saya yang saya berikan kepada Pansus RUU UU Desa sebagai masukan saat dilaksankannya Rapat Dengar Pendapat RUU Desa (RDP RUU Desa), pad 20 Juni 2012 di Gedung Nusantar 1, Jakarta. Beberapa Kepala Desa yang lain, yang hadir juga membuat catatan (masukan) lain.

Desa memiliki modal besar untuk mendorong upaya-upaya perubahan sosial, terutama membangun pemenuhan kebutuhan warganya. Desa pun kaya akan aspek pengetahuan yang dapat menjadi bahan pembelajaran pembangunan, pengembangan komunitas, dan penataan ekonomi warga. Berbagai pengalaman menunjukkan beberapa desa cukup kreatif dalam melakukan pengembangan ekonomi kolektif yang mampu menyejahterakan masyarakatnya. Desa mampu memetakan dan mengembangkan produk, menata pasar dalam dan luar desa dan mampu mengembangkan lumbung desa.

Keunggulan desa lainnya adalah semangat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Di desa, keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan pembangunan bukan menjadi hal asing. Tradisi tolong-menolong, persaudaraan, gotong-royong dan keswadayaan menjadi modal dasar utama pembangunan desa yang tetap tumbuh dan terjaga. Selain itu, ada praktik perlindungan hak-hak warga dan kelompok rentan yang terus berjalan dengan baik sebagai khasanah kearifan lokal.

Desa, yang di dalamnya terdapat penduduk dan berbagai macam sumberdaya alam memiliki posisi yang sangat strategis dalam konteks pembangunan masyarakat. Kemampuan desa melakukan tata kelola sumberdaya desa menjadi kata kunci untuk mewujudkan kemandirian desa.  Hal ini sangat disadari betul oleh banyak desa. Sehingga beberapa desa telah mengambil inisiatif untuk melakukan tata kelola sumberdaya desa dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).  Sebagai contoh apa yang telah dilakukan oleh 26 desa di wilayah Kabupaten Banyumas, beberapa desa di Kabupaten Bantul dan Tasikmalaya serta Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka dalam rangka melakukan tata kelola sumberdaya desa, telah mengembangkan Sistem Informasi Desa (SID).

SID adalah sebuah aplikasi yang membantu pemerintah desa dalam mendokumentasikan data-data milik desa guna memudahkan proses pencariannya. SID merupakan suatu rangkaian/sistem (baik mekanisme, prosedur hingga pemanfaatan) yang bertujuan untuk mengelola sumberdaya yang ada di desa. SID menyediakan basis data desa, khususnya tentang kependudukan yang bisa diakses secara cepat karena SID berbasis web/internet. SID juga menjadi alat untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan di desa sehingga prinsip-prinsip good governance, seperti transparansi dan akuntabilitas bisa berjalan dengan lebih baik.  Tidak hanya itu, SID juga menjamin semakin cepatnya pelayanan yang diberikan pemerintah desa kepada masyarakat.  SID juga berisi berbagai informasi tentang sumberdaya yang ada di desa seperti soal tanah, hutan, mata air, potensi pertanian, perkebunan, dan sebagainya.

Manfaat SID bagi desa-desa ini sangat terasa.  Meningkatnya kepercayaan masyarakat karena diterapkannya prinsip transparansi, kemudahan dalam perencanaan pembangunan, kemudahan memperoleh data dan informasi desa, adalah beberapa contoh manfaat diterapkannya SID.

Dan yang perlu ditekankan lagi, SID ini dibangun secara partisipatif dan berangkat dari inisiatif desa-desa.  Beberapa workhsop telah dilakukan di Banyumas dalam rangka mengembangkan SID.  Sehingga SID ini memang muncul betul-betul dari kebutuhan desa.

Apa yang dikemukakan di atas adalah contoh bagaimana desa-desa mampu mengambil inisiatif dalam melakukan tata kelola sumberdaya desa.  Dalam konteks pembahasan RUU Desa, maka sesungguhnya tidak ada alasan lagi desa dipandang dengan sebelah mata.  Desa pada dasarnya mampu mengelola banyak sumberdaya ketika desa juga diberikan banyak kewenangan dan diperkuat otonominya.  Sudah ada mekanisme dan sistem nilai yang terbangun di desa dalam melakukan tata kelola sumberdaya desa.  Sehingga yang perlu ditegaskan dalam RUU Desa adalah adanya kewenangan yang jelas yang diberikan kepada desa.

 

                                            Jakarta, 19 Juni 2012

  Oleh: Bayu Setyo Nugroho (Kepala Desa Dermaji – Banyumas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.