CatatanUncategorized

Festival Jadul: Inisiatif Desa Membangun Indonesia

Ini adalah catatan yang saya buat usai mengikuti acara Festival Jawa Kidul atau Festival Jadul pada tahun 2012, di Desa Mandalamekar, Kabupaten Tasikmalaya.  Festival Jadul digagas oleh para pegiat Gerakan Desa Membangun (GDM), dan menjadi bagian dari proses perjalanan belajar bersama desa-desa GDM.  

Usai sudah acara festival dunia perdesaan, Festival Jawa Kidul (Festival Jadul). Festival yang diselenggarakan di Desa Mandalamekar Kabupaten Tasikmalaya selama empat hari, mulai 2-5 Juni 2012 itu meninggalkan banyak kesan dan catatan. Sebagian besar peserta menyatakan sangat puas dengan acara tersebut dan mengharapkan dilakukan acara yang sama pada waktu dan tempat yang berbeda.

“Ini betul-betul acara yang sangat luar biasa, di luar dugaan saya sebelumnya”, ungkap Bagus mahasiswa Fisip Unsoed yang menjadi peserta festival.

Hal senada disampaikan oleh Ahmad Munawar, Kepala Desa Pancasan Kabupaten Banyumas.

“Acara seperti ini sangat kami butuhkan. Di sini kami bisa saling berbagi, saling belajar dan menurut kami ini penting untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat desa. Kami sangat puas dengan acara ini”, ungkap Munawar.

Festival Jadul yang mengambil tema “Optimalisasi Peran Pemerintah Desa dalam Tata Kelola Kawasan Menuju Pemerintahan yang Akuntabel, Terbuka, Partisipatif dan berpihak pada Masyarakat”, dihadiri oleh ratusan peserta dari desa-desa di jejaring Gerakan Desa Membangun (GDM), Lembaga Pemerintahan, anggota DPR, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan berbagai komunitas. Acaranya sendiri dikemas menjadi berbagai macam kegiatan. Ada rembug nasional, talk show, klinik-klinik perdesaan, dan hiburan rakyat.

Pada sesi rembug nasional I menghadirkan narasumber Yana Noviadi (Kepala Desa Mandalamekar Tasikmalaya), Avi Mahaningtyas (Kemitraan Jakarta), Hedar Laudjeng (Dewan Kehutanan Nasional), Rosika Chandra Komala (Gerakan Perempuan Peduli Desa), Ludo Pratomo (Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Provinsi Jawa Barat), dan Budiman Sudjatmiko (Anggota DPR-RI) dengan moderator saya sendiri, Bayu Setyo Nugroho (Kepala Desa Dermaji).

Pada sesi ini, narasumber menekankan pentingnya posisi desa dan masyarakat desa serta memberikan apresiasi yang tinggi terhadap desa-desa yang ada dalam jejaring GDM.

Avi Mahaningtyas, misalnya, sangat memberikan apresiasi kepada desa-desa GDM.

“Saya grogi karena program saya masih jendela. Di sini saya merasa menjadi minoritas di antara bapak ibu yang sudah sangat tercerahkan yang telah memakai sebuah teknologi yang praktis, terjangkau dan bebas”, ungkap Avi.

Berbeda dengan Avi, Laudjeng mengatakan desa adalah sebuah entitas yang harus dihormati, karena  pengaturan tentang tata kemasyarakatan yang kemudian disebut desa telah ada beribu-ribu tahun yang lalu.

Apresiasi yang tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh GDM juga disampaikan oleh Budiman Sudjatmiko. Budiman menyebut desa-desa GDM sebagai pelaku perubahan sejati. Bahkan Budiman mengatakan bahwa desa-desa ini menjadi gambaran masa depan desa-desa di Indonesia.

“Saya merasa bangga dan terhormat bisa berjumpa dengan saudara-saudara. Kehadiran saya pada hari ini, detik ini dan jam ini meneguhkan saya dan saya berharap juga dapat meneguhkan teman-teman saya di parlemen bahwa tidak ada alasan untuk menunda Undang-Undang Desa, tidak ada alasan mereduksi Undang-Undang Desa seperti yang diusulkan Pemerintah. Kenyataan hari ini, sebagian rekan-rekan yang ada di sini adalah gambaran masa depan desa-desa di Indonesia”, tegas Budiman.

Pada rembug nasional II, yang menghadirkan narasumber Khalik Arif (Bupati Wonosobo) dan Agung Budi Satrio (Kepala Desa Melung Banyumas) mengambil tema Kebijakan Desa.

Budi Satrio menegaskan bahwa kebijakan desa seringkali terkendala oleh kebijakan-kebijakan di atasnya. Kebijakan-kebijakan dari atas seringkali tidak adaptif terhadap kondisi desa.

Hal senada disampaikan oleh Khalik Arif.

“Kalau kita bicara tentang desa, perubahan signifikan itu juga harus dimulai dari sebuah kebijakan Pemerintah Kabupaten”, ungkap Bupati Wonosobo tersebut.

Selain rembug nasional, tak kalah menarik adalah acara talk show. Acara talk show dilakukan di atas panggung hiburan rakyat. Ada dua tema yang diangkat dalam acara talk show, yaitu tentang Gerakan Desa Membangun dan Keterbukaan Informasi Publik. Adapun narasumber dalam talk show, yaitu Khodirin (Perangkat Desa Karangnangka Banyumas), Jalu Sungging Septivianto (pegiat GDM), Irman Meilandi (pegiat GDM), saya,  Ahmad Munawar (Kepala Desa Pancasan), Dan Satriana (Ketua Komisi Informasi Jawa Barat), dan Mujtaba Hamdi (Takinaya Institute).

Dalam talk show tentang keterbukaan informasi publik, Dan Satriana mengatakan Pemerintah dan lembaga publik besar saat ini harus belajar dari desa. Banyak desa yang sudah mampu membangun keterbukaan informasi publiknya sendiri.

“Harusnya mereka (pemerintah) malu karena desa sudah mampu membuka kepada masyarakat informasi publiknya”, papar Dan.

Kegiatan menarik lainnya adalah kelas workhshop. Di sini para peserta bisa memilih kelas dengan tema-tema yang diinginkan untuk menambah pengetahuan mereka. Ada kelas Blankon Membangun, Bikin Peta Kampung, Blogger Ndeso, Media Komunitas, Kritis Menonton TV, Tata Kelola Sumber Daya Desa, dan Tata Kelola Pengurangan Resiko Bencana.

Acara festival menjadi semakin menarik karena peserta disuguhi berbagai macam kesenian rakyat. Ada pertunjukan kesenian Pencak Silat Jagasarakan Galuh Pakuan, Degung, Gondang dan Qasidah.

Delegasi Kabupaten Banyumas yang mengirimkan 20 desa juga tidak mau kalah, ikut berpartisipasi memeriahkan festival. Delegasi Banyumas membuat dua stand. Ada stand mendoan yang menyediakan makanan khas banyumas, dan stand minapolitan dari Desa Beji dan Karangnangka yang menyediakan informasi serta cara budidaya pembibitan Gurameh. Kedua stand tersebut banyak dikunjungi oleh warga setempat dan para peserta. Bahkan mendoan menjadi makanan favorit selama festival.

Penanaman pohon bersama di hutan desa Karang Soak Mandalamekar menjadi penutup acara festival. Hutan desa seluas 40 hektar tersebut merupakan penyangga mata air utama bagi masyarakat desa Mandalamekar. Kegiatan tersebut dilakukan sekaligus dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.